image

image

image

image

image

Hari ini, Superbuah berjalan-jalan di pasar Tradisional Klungkung, Bali. Sembari mencari barang-barang yang dicari, mata ini tertuju pada tumpukan buah-buah berkulit hijau kusam dan cenderung putih. Hampir di tiap kios buah menyediakan. Warnanya sama sekali tidak menarik. Jauh dari kesan buah penakluk lidah. Mangga wani.

Kios-kios itu menyediakan berbagai ukuran. Mulai dari yang besar sekali, besar, medium, sampai buah segenggam tangan. Ternyata banyak ragam. Begitu juga dari sisi rasanya. Banyak juga.  Mulai dari yang asem hingga yang manis. Karena itu pula, tidak heran harganya juga berbeda.

Saya tanya ke kios, ternyata harganya 25rb/kg. Cukup mahal untuk ukuran buah lokal. Apalagi mangga. Saya membeli yang berukuran kecil dan berasa manis. Testernya saya cicipi dulu sebelum membayar. Tidak terlalu manis juga tidak asam.

Sesampai di rumah, Mangga ini saya kupas. Tersembul daging buah yang super putih. Putih sekali. Inilah yang menyebabkan namanya disebut pula mangga putih.

Daging cukup berserat. Saya lihat kebanyakan begitu tiap menikmatinya. Sayangnya yang ini dagingnya juga cukup tipis. Begitu dibelah, bijinya langsung terekpos. Tidak apalah. Begitu mampir di lidah, manis. Tidak ada asam. Saya mengira-ngira rasanya dekat apa ya? Ah…mirip sirsak tapi manis. Iya mirip sirsak saya rasa.

Aromanya juga khas. Bukan seperti mangga. Tapi dia punya ciri khas aroma tersendiri. Berbeda juga dengan kweni. Pokoknya coba sendiri saja deh. Agak susah mendifinisikan dalam bentuk tulisan. Sayang aroma ini tidak bisa direkam dan diubah dalam bentuk digital. Mungkin suatu saat, barangkali.

Penasaran dengan isinya, saya kelopek lapisan tipis pembungkus biji. Sama sekali bukanlah serupa biji mangga. Cenderung bulat oval, bukan gepeng. Seperti bola rugby.

Lalu saya kupas wani lainnya yang juga sama-sama matang sempurna. Tidak terasa 3 buah sudah kami nikmati bersama istri dan anak-anak. Mereka juga suka. Sampai pada buah keempat yang belum blenyek. “Yang ini tidak enak, ayah..!!” kata anak saya. “Asam, gak mau ah.”

Kebanyakan Wani memang harus dinikmati dalam kondisi matang sempurna. Cirinya, ketika ditekan kulit, tekturnya sangat lembek. Blenyek..!! Baru enak. Kalau masih mengkal cenderung asam. Apalagi mentah.

Wani sangat terkenal di Pulau Dewata ini. Bahkan sudah menjadi bagian identitas. Buah endemik saya rasa. Ada yang mengatakan mirip dengan kemang di pulau Jawa bagian barat. Saya belum pernah makan kemang. Jadi, tentu tidak bisa membandingkannya.

Sayangnya, pohon Wani semakin langka. Kebanyakan pohonnya adalah pohon rakyat yang tumbuh di kebun. Menjulang tinggi sangat besar. Bukan pohon budidaya. Kebanyakan dari biji. Sudah berumur puluhan bahkan mungkin ratusan tahun.

Saya belum pernah mendengar perkebunan mangga Wani. Perkebunan yang dikelola intensif tentunya. Tapi sejauh ini saya sudah menyimpan bibit Wani seedless di rumah. Kabarnya tidak berbiji. Pemberian seorang sahabat. Hobiis sekaligus penangkar tanaman di Buleleng. Akan saya kembangkan.

Keragaman hayati Nusantara memang membanggakan. Selalu ada alasan baru untuk mensyukuri dilahirkan di sini.

WANI NGUMPEN, WANI TANPA BIJI YANG POTENSIAL DIKEMBANGKAN
Baca-baca di jurnal, ternyata paling tidak ada 22 jenis wani di Bali. Mulai dari wani tembaga, madu, hingga wani ngumpen yang tanpa biji.

Wani ngumpen paling potensial dikembangkan. Edible portion paling besar. Rasa juga manis. Ternyata bibit yang dikasih seorang sahabat dulu jenis ngumpen rupanya. Wah semakin bahagia memilikinya.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s