Jenis-jenis Mangga Wani dan Karakternya

Jenis-jenis Mangga Wani dan Karakternya

Menyambung tulisan Superbuah sebelumnya. Mangga Wani ternyata banyak jenisnya. Bahkan tidak hanya terdapat di Bali sj. Di beberapa pulau lain ada juga. Namanya berbeda. Di Bangka dan Banjarmasin disebut Binjai.

Di pulau seribu pura ini juga paling tidak terdapat 22 jenis varian Wani. Semua berbeda. Mulai dari ukuran, rasa, tekstur, warna kulit, dan edible portion daging buahnya. Ada Wani Ngumpen tanpa biji dan manis. Ini yang diandalkan berdasarkan penelitian di IPB.

Berikut superbuah tampilkan informasinya. Semoga bermanfaat. Mohon dibantu untuk menyebarkan informasi ini.

image

image

Posted from WordPress for Android

Mangga Wani, Khas Bali nan Eksotik. Wani Ngumpen Tanpa Biji Potensial Dikembangkan

Mangga Wani, Khas Bali nan Eksotik. Wani Ngumpen Tanpa Biji Potensial Dikembangkan

image

image

image

image

image

Hari ini, Superbuah berjalan-jalan di pasar Tradisional Klungkung, Bali. Sembari mencari barang-barang yang dicari, mata ini tertuju pada tumpukan buah-buah berkulit hijau kusam dan cenderung putih. Hampir di tiap kios buah menyediakan. Warnanya sama sekali tidak menarik. Jauh dari kesan buah penakluk lidah. Mangga wani.

Kios-kios itu menyediakan berbagai ukuran. Mulai dari yang besar sekali, besar, medium, sampai buah segenggam tangan. Ternyata banyak ragam. Begitu juga dari sisi rasanya. Banyak juga.  Mulai dari yang asem hingga yang manis. Karena itu pula, tidak heran harganya juga berbeda.

Saya tanya ke kios, ternyata harganya 25rb/kg. Cukup mahal untuk ukuran buah lokal. Apalagi mangga. Saya membeli yang berukuran kecil dan berasa manis. Testernya saya cicipi dulu sebelum membayar. Tidak terlalu manis juga tidak asam.

Sesampai di rumah, Mangga ini saya kupas. Tersembul daging buah yang super putih. Putih sekali. Inilah yang menyebabkan namanya disebut pula mangga putih.

Daging cukup berserat. Saya lihat kebanyakan begitu tiap menikmatinya. Sayangnya yang ini dagingnya juga cukup tipis. Begitu dibelah, bijinya langsung terekpos. Tidak apalah. Begitu mampir di lidah, manis. Tidak ada asam. Saya mengira-ngira rasanya dekat apa ya? Ah…mirip sirsak tapi manis. Iya mirip sirsak saya rasa.

Aromanya juga khas. Bukan seperti mangga. Tapi dia punya ciri khas aroma tersendiri. Berbeda juga dengan kweni. Pokoknya coba sendiri saja deh. Agak susah mendifinisikan dalam bentuk tulisan. Sayang aroma ini tidak bisa direkam dan diubah dalam bentuk digital. Mungkin suatu saat, barangkali.

Penasaran dengan isinya, saya kelopek lapisan tipis pembungkus biji. Sama sekali bukanlah serupa biji mangga. Cenderung bulat oval, bukan gepeng. Seperti bola rugby.

Lalu saya kupas wani lainnya yang juga sama-sama matang sempurna. Tidak terasa 3 buah sudah kami nikmati bersama istri dan anak-anak. Mereka juga suka. Sampai pada buah keempat yang belum blenyek. “Yang ini tidak enak, ayah..!!” kata anak saya. “Asam, gak mau ah.”

Kebanyakan Wani memang harus dinikmati dalam kondisi matang sempurna. Cirinya, ketika ditekan kulit, tekturnya sangat lembek. Blenyek..!! Baru enak. Kalau masih mengkal cenderung asam. Apalagi mentah.

Wani sangat terkenal di Pulau Dewata ini. Bahkan sudah menjadi bagian identitas. Buah endemik saya rasa. Ada yang mengatakan mirip dengan kemang di pulau Jawa bagian barat. Saya belum pernah makan kemang. Jadi, tentu tidak bisa membandingkannya.

Sayangnya, pohon Wani semakin langka. Kebanyakan pohonnya adalah pohon rakyat yang tumbuh di kebun. Menjulang tinggi sangat besar. Bukan pohon budidaya. Kebanyakan dari biji. Sudah berumur puluhan bahkan mungkin ratusan tahun.

Saya belum pernah mendengar perkebunan mangga Wani. Perkebunan yang dikelola intensif tentunya. Tapi sejauh ini saya sudah menyimpan bibit Wani seedless di rumah. Kabarnya tidak berbiji. Pemberian seorang sahabat. Hobiis sekaligus penangkar tanaman di Buleleng. Akan saya kembangkan.

Keragaman hayati Nusantara memang membanggakan. Selalu ada alasan baru untuk mensyukuri dilahirkan di sini.

WANI NGUMPEN, WANI TANPA BIJI YANG POTENSIAL DIKEMBANGKAN
Baca-baca di jurnal, ternyata paling tidak ada 22 jenis wani di Bali. Mulai dari wani tembaga, madu, hingga wani ngumpen yang tanpa biji.

Wani ngumpen paling potensial dikembangkan. Edible portion paling besar. Rasa juga manis. Ternyata bibit yang dikasih seorang sahabat dulu jenis ngumpen rupanya. Wah semakin bahagia memilikinya.

Posted from WordPress for Android

BERKUNJUNG KE NURSERI BIBIT BUAH BINAAN KAMI DI KLUNGKUNG BALI

BERKUNJUNG KE NURSERI BIBIT BUAH BINAAN KAMI DI KLUNGKUNG BALI

Salah satu kegiatan kami adalah pelatihan pembibitan tanaman buah. Sudah banyak pihak-pihak yang sudah kami latih dan kami bina dalam pembuatan nurseri dan usaha tanaman buah. Salah satunya adalah nurseri milik Bapak Jakfar, kepala desa di Kampung Kusamba Kecamatan Dawan Klung Bali.

Pada saat ini nurseri tersebut telah berjalan cukup baik dengan menjalankan usaha tanaman buah. Bibit berasal dari produksi sendiri, suplai dari pihak lain, maupun suplai dari pihak Superbuah. Berikut foto-foto on the spot sewaktu superbuah berkunjung ke Nurseri tersebut.

image

image

image

image

image

image

image

Posted from WordPress for Android

Makan Buahnya, Tanam Bijinya

Makan Buahnya, Tanam Bijinya
image
Biji klengkeng

Buah merupakan tanaman yang sempurna, menyehatkan dan tidak kebanyakan tidak berefek apapun. Makan buah akan lebih membawa manfaat lagi jika biji-bijinya dikumpulkab, lalu disemai.

Pada saatnya nanti dia akan tumbuh menjadi pohon baru. Jika anda kreatif maka tanamab yang dari biji ini nantinya bisa digrafting. Baik dengan okulasi, sambung sisip, ataupun sambung pucuk. Kemudian menjadi tanaman baru yang lebih “jelas” identitasnya.

Pada klengkeng misalnya, biji dari buah yang kami makan, kami semai. Pada saatnya nanti kami sambung dengan jenis yang lebih bagus. New kristal, King Longan, Itoh dan beberapa jenis lainnya. Selain bisa kami jual, bibit-bibit ini bisa kami tanam sendiri.

Tidak rugi, justru keuntungannya berlipat. Makan buahnya dan panen bibitnya.

Posted from WordPress for Android

DELIMA MERAH “YERUSALEM” YANG GAMPANG BERBUAH

DELIMA MERAH “YERUSALEM”  YANG GAMPANG BERBUAH

image

image

image

Delima ini kami tanam sekitar 1,5 tahun lalu. Dari seorang teman. Dari biji dia semai. Katanya dia dapat dapat seedsnya dari seorang kawan yang langsung dapat dari izrael. Singkat kata oleh teman saya itu dikasih nama delima yerusalem. Boleh juga disebut delima izrael.

Dari bibit seukuran 40 cm kami tanam. Di planterbag ukuran 100 liter. Puji syukur, ternyata gampang sekali berbuah delima ini. Dan buahnya juga relatih banyak meskipun pohonnya tidak terlalu besar.

Karena ada batang buah yang patah, maka dengan terpaksa ada delima yang kami petik meskipun belun tua. Masih pentil. Muda sekali.

Setelah kami belah, wooow warnanya merah merona. Menarik. Kami cicipi, rasanya lumayan. Manis segar. Kami makan bersama bijinya, lunak juga. Mungkin lantaran masih muda? Bisa juga. Tapi pada umumnya delima seumuran itu, bijinya sudah keras.

Sayanh, kulitnya masih hijau. Baru mau keluar semburat merah. Kami berharap delima ini bisa lebih besar lagi. Dan tentu bisa lebih merah lagi, baik kulit maupun dalamnya. Berharap begitu.

Posted from WordPress for Android

Dewa Daru yang Bertuah

Dewa Daru yang Bertuah

Dewa daru merupakan tanaman buah dalam kategori cheri-cherian. Gampang berbuah meskipun dari biji. Buah matang warnanya sangat menarik. Merah kehitaman mengkilap.

Rasa buah ini manis sedikit asam. Juicy, berair cukup banyak. Hanya saja aromanya bagi beberapa orang tidak menyukainya. Karena dianggap langu.

Di Gunung Kawi Malang, dewa daru dianggap sebagai tanaman bertuah. Tiap daun yabg runtuh akan menjadi rebutan. Karena dianggap akan membawa keberkahan tersendiri. Ada-ada saja.

Lepas dari itu semua, dewa daru sangat cocok sebagai tanaman buah ornamental pemanis halaman rumah. Untuk mendapatkan bibitnya, silahkan hubungi WA kami di 081931723043

Posted from WordPress for Android